Berduka Atas Tragedi ’98

Oleh : Okrina Triwidanti

Tahun ’98 adalah sejarah yang patut dibangakan mahasiswa. Tidak hanya berhasil mempersatukan diri. Tetapi juga mampu menggulingkan Sang Ditaktor-Soeharto. Meski bukan murni mahasiswa yang melakukannya. Namun ternyata insiden yang membanggakan itu bagai pisau bermata dua.

Organisasi mahasiswa-UKM maupun ekstra kampus kala itu tengah panas menyusun demonstrasi. Bahkan jauh hari mengadakan diskusi. Atau pers mahasiswa mengambil porsi media mainstream-yang ketakutan setengah mati memberitakan Soeharto. Organisasi itu hidup, katanya orang-orang tua.

Arah diskusi tak pernah jauh dari pemerintah. Bedil kata-kata pers mahasiswa meringsek menembus pertahanan ditaktor yang hampir 32 tahun berkuasa. Semuanya persis tahu arah senapan mereka menuju pada satu, pemerintah yang otoriter. Bahkan ini terjadi bukan di satu daerah tetapi satu Indonesia.  Bisa di bayangkan energinya pasti besar.

Akhirnya mahasiswa Indonesia, agent of change, berhasil memaksa Soeharto turun. Dan hingga saat ini setiap orang yang menjadi mahasiswa bangga dengan fakta itu. Sayangnya, apa yang telah dicapai di ’98 kemudian tak dinyana berdampak pada kehidupan organisasi mahasiswa sekarang.

Sebab musuh telah habis maka bedil-bedil organisasi mahasiswa tak tahu harus diarahkan kemana. Kata seorang teman “Sing ada gae buin (ga ada kerjaan lagi) (more…)

September 23, 2009 at 10:19 am Leave a comment

Solilokui: Kata-kata yang Menginginkan Tempatnya

merindukan kedatanganmu,

sedang aku kehabisan cara untuk berkata, aku rindu kamu, itu saja. ketika malam-malam kemarin kerap kamu datang dan malam hari ini menghilang. aku linglung. sedang aku terlalu cepat menimang sangka, oh aku mulai terjebak dalam prasangka dan mulai menduga-duga, tidak semestinya.

menulis tentang kamu,

bahkan ada beberapa tanda aku selipkan dalam kata-kata itu. segala percakapan yang telah kita gelar dari malam satu ke malam lain, tanggal satu yang menggenapkan tanggal berikutnya, selalu aku salin dalam cerita yang bisa dengan mudahnya kamu temu.

menginginkan kamu,

mungkin benar ketika aku mau satu, aku akan telanjur menagih satu, satu, satu dan satu yang lain yang jika ditimbang-timbang aku menginginkan lebih dari satu. seperti itu mungkin ketika aku menginginkan kamu, selalu berharap lebih dari satu, mau dan semakin mau. melulu hanya mau dengan kamu meski malu-malu.

menafsirkan inginmu,

ketika aku diguyur bahkan oleh secangkir air dingin, tiba-tiba dingin dan beku. dan aku paham, kamu masih menginginkan cinta dua tahunmu itu, yang pernah kamu ceritakan padaku, malam itu pukul satu malam, kita bertamasya menyusuri jalan-jalan sepi dan sesekali mampir ke warung nasi. lalu, setumpuk urusan yang harus diselesaikan, dan aku lagi-lagi paham, aku bukanlah siapa-siapa. dan, di bangku goyang itu, senja itu, (more…)

September 15, 2009 at 12:48 pm Leave a comment

Yang Dicetuskan Angin Hari Ini

: yang dicetuskan angin hari ini

sebab hasrat diri telah lama mati!

“pernah kau tangkap bayanganmu yang berlari mengejar tubuhmu. Yang selalu mengintai dari balik jelaga yang sangat pekat. Diam-diam menimpali setiap jejak yang kau mainkan menuju peraduan. Dan langit yang masih saja menyaksikan kebodohan-kebodohanmu, opera orang dungu yang selalu memainkan lakon yang tidak sesuai perannya. Ketika jerit ayam pejantan hanya sanggup mengusir kantuk yang menghinggapi matamu, tidak mengembalikan jiwamu yang benar-benar telah habis dikunyah malam yang bahkan lebih angker dari makam-makam keramat.”

: yang dicetuskan angin hari ini II

Sebab nurani telah lama pergi!

“kamu lihat cemara laut yang terus saja bergoyang dikecup angin, siang tadi. satu kecupan saja!tubuhnya bagai kesetanan, menagih dan terus menagih. benih macam apa yang ditanam di dasar akar-akar bakau itu: tempat anak cucuku, leluasa bercinta. kasmaran. bukankah angin selalu mengabarkan kerinduan akan kelahiran yang selalu menjelang di musim kawin.“
Juli 2009

A.Ditha

September 15, 2009 at 12:39 pm Leave a comment

Duh Gusti…

“Beh, luh-luhne liu mepupur jani, jeg lais!” celetuk salah seorang lelaki yang suaranya samar-samar terdengar akibat menggelegarnya suara speaker alat pemutar musik house malam tahun baru kemarin.

Ekspresinya pun tak tampak jelas, remang-remang lilin hanya membiarkan bayanganya berbaju safari muncul. Suara ribut orang-orang memegang gelas di tangan kiri, dan botol besar  berisi air berwarna air kencing ditangan kanan sekaligus menemani kalimat itu meluncur dari mulut lelaki itu.

Kalimat itu seketika membuat saya berpikir panjang. Tentang saya. Tentang manusia Bali. Tentang Bali yang katanya pulau dewa. Saya kembali terlempar ke malam itu, malam di mana membuat saya tidak berhenti berdecak, berdecak kecewa akan manusia Bali yang katanya berbudaya, manusia Bali yang katanya religius.

Bali yang berbudaya dan manusia bali yang religiuslah yang jelas-jelas menghalalkan penggalian dana dengan bazaar malam yang kenyataannya tak ubahnya seperti kafe remang-remang atau diskotik yang menawarkan perempuan-perempuan Bali serta musik maknyos nan menggelegar. Miris saya, ketika dengan terpaksa harus begadang di malam tahun baru (more…)

September 8, 2009 at 9:00 am Leave a comment

Dulu Pembantu, Sekarang Pekerja Seks

Baju ketatnya terbuka sedikit memperlihatkan sebidang kulit mulus di dalamnya. Rambut hitamnya tergerai di bahu, membingkai wajah lugunya. Sesekali ia tersenyum kecil.  Tubuhnya tidak sintal, namun masih bertahan melayani pelanggan.

Dulu saya kerja sebagai pembantu. Sekarang sudah 3 tahun jadi PS (pekerja seks),” ujar Ana- salah seorang PS lokalisasi Carik Gatsu di tengah- tengah pertanyaan para peserta pelatihan pers kampus yang diadakan KPA Bali Minggu (5/7) kemarin.  Iapun menuturkan keterpaksaannya menjadi pekerja seks. Awalnya ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Namun lama- kelamaan, kebutuhan ekonominya dan keluarga semakin bertambah. Maka ia mengambil keputusan untuk menjadi pekerja seks. Bermula dari ajakan seorang teman untuk hijrah ke Bali dan mengatakan peluang pekerja seks sangat besar.

Hal serupa disampaikan oleh Wayan Sari, salah satu bos lokalisasi Carik. Pekerja- pekerja seks di sana memang sebagian besar karena masalah ekonomi. Sejauh ini sudah beberapa pekerja seks menetap lama karena ekonomi mereka perlahan terobati.  Namun syukurnya,  lokalisasi Carik mendapatkan bantuan Rumah Singgah dari yayasan Kerti Praja. Bantuan tersebut  sangat membantu kehidupan PS terutama dalam urusan kesehatan seksual.

Lokalisasi memang tidak dilegalkan, namun mau gimana lagi? Daripada mereka tidak terdata? Sampai saat ini saja udah 35 orang tercatat HIV/AIDS di sini,” ungkap Mercya- KPA Bali menanggapi pertanyaan peserta perihal legalitas lokalisasi. Ia memaparkan kelebihan yang didapatkan dengan kerjasama antar bos lokalisasi. Mereka bisa mendata berapa PS yang terjangkit HIV ataupun penyakit menular lainnya. Selain untuk pendataan, hal ini sangat berguna dalam memberikan pengertian nge’seks’ aman. Tujuan pendataan tak bukan agar KPA bisa memantau berapa banyak PS yang terjangkit.

Selain pendataan dan pengertian nge’seks’ aman, KPA juga berusaha agar tramtib bisa bekerja sama. Menurut penuturan Wayan Sari, tramtib- tramtib dulu biasanya main tangkap saja. Jika sudah begitu biasanya para PS akan pergi menyebar kemana- mana. Hal itu merepotkan KPA dalam pendataan PS terutama yang terjangkit virus- virus penyakit menular seksual. Oleh karena itulah kerjasama antar Bos lokalisasi dan Tramtib sangat memabntu KPA.

Pelatihan jurnalistik yang berlangsung akhir pekan lalu memang diharapkan membuat para peserta dapat membuka mata terhadap persoalan pelik seputar HIV/AIDS.  Hal itu sudah dibuktikan peserta dengan kunjungan langsung ke lokalisasi. Banyak peserta mengaku terkejut dan kaget karena baru pertama datang dan mengenal tempat seperti ini.  Sebut Saja Ayu yang mengutarakan ketakjubannya saat Ana menjawab pertanyaan tentang umur para pelanggannya.

Paling tua 45 tahun, pernah juga saya dapet anak SMP,” (more…)

September 8, 2009 at 8:42 am 1 comment

Kematian Misterius Para Pembaru Indonesia: Orang-Orang Cerdas yang Mati Ditangan Bangsanya Sendiri Pembaru Indonesia yang (di)Hilang(kan)

Tidak mudah menjadi kritis di Indonesia. Salah-salah, nama anda semakin cepat terukir di nisan. Tidak percaya? Orang-orang ini sudah membuktikannya.

Melongok sejarah Indonesia abad ke-20 dan awal abad-21, niscaya kita menemukan betapa banyaknya darah yang telah tumpah di bumi pertiwi. Sampai-sampai ada yang bilang, bahwa Indonesia is a violent country. Yang menyedihkan, (sebagian) tragedi itu disebabkan atau dilakukan oleh pihak yang paling berkuasa, negara. Patut menjadi perhatian, selain kasus-kasus yang bersifat massal, ada lagi perkara kekerasan yang memiliki kategori idiosinkratis.

DSCI3299Kematian yang terjadi bukan dikaitkan pada tanggal atau tempat terjadinya, melainkan identitas si korban. Almarhum dianggap sebagai sebuah representasi yang mumpuni dari suatu konstruksi ideal, yang ternyata, dalam banyak hal berbeda bahkan berlawanan dengan visi negara. Bisa jadi negara atau pendukung-pendukungnya terusik dengan perlawanan ini sehingga berusaha mencari jalan untuk menghentikannya. (more…)

August 29, 2009 at 7:58 am Leave a comment

Agung Wardana: Persoalan Lingkungan, Persoalan Bersama

Agung 1

Pada tahun 2005, bencana tsunami melanda daerah Aceh dan sekitarnya, turut mengundang simpati seluruh masyarakat Indonesia. Dari sana rupanya perjalanan Agung Ardana, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Bali berawal sebagai aktifis lingkungan. “Dengan menjadi relawan kemahasiswaan saat itu, menyadarkan bahwa alam dapat begitu besar merusak jika kita tidak turut menjaganya,” ungkapnya.

Bumi kita saat ini sudah semakin rentan, sehingga permasalahan lingkungan hidup merupakan hal yang sangat penting. Di seluruh wilayah di Indonesia, banyak permasalahan lingkungan yang terjadi. Apa yang telah terjadi di Aceh, menurutnya tak semata-mata hanya karena bencana alam. Aktivitas manusia dalam pengeboran lepas pantai misalnya, memperparah keadaan sehingga bencana besar tak terelakkan lagi.

Kita patut berbangga bahwa salah satu solusi untuk isu global warming (pemanasan global-red), dicetuskan oleh masyarakat dan dibawahi WALHI serta LSM lingkungan lainnya. Yaitu dengan mengagendakan World Silent Day (Hari Hening Sedunia, yang diadaptasi dari Nyepi masyarakat Bali, untuk mengurangi kadar karbon di udara. “Tentunya yang diambil disini adalah esensi lingkungannya, bukan agama. Ini bukan misionaris untuk menghindukan masyarakat. Dengan tidak melakukan aktivitas selama empat jam setahun, berarti kita memberikan bumi waktu untuk bernafas dan memperbaiki sistemnya yang rusak,” papar aktifis lingkungan ini.

Lebih lanjut, Agung mengajak kaum muda untuk mempersatukan diri, menjaga dan menyadari arti lingkungan untuk kehidupan manusia itu sendiri. “Permasalahan lingkungan itu bukan hanya persoalan aktivis lingkungan saja. Itu persoalan kita bersama. Jika lingkungan rusak, tak hanya aktivis lingkungan yang kena akibatnya. Pun jika lingkungan stabil dan sehat, seluruh masyarakat yang menerima hasilnya,” kata pria yang pernah tergabung dalam PBLH ini serius.

Tulisan dan Foto: Dian Purnama

August 29, 2009 at 7:53 am Leave a comment

Older Posts


Recent Posts

Akademika Unud

August 2016
M T W T F S S
« Sep    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.