<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Persma Akademika</title>
	<atom:link href="http://akademikaunud.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://akademikaunud.wordpress.com</link>
	<description>Taki-takining Sewaka Guna Widya</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 Sep 2009 10:29:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='akademikaunud.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/ad874ee1e28128a95a04099dcc04d825?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Persma Akademika</title>
		<link>http://akademikaunud.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://akademikaunud.wordpress.com/osd.xml" title="Persma Akademika" />
	<atom:link rel='hub' href='http://akademikaunud.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Berduka Atas Tragedi ’98</title>
		<link>http://akademikaunud.wordpress.com/2009/09/23/berduka-atas-tragedi-%e2%80%9998/</link>
		<comments>http://akademikaunud.wordpress.com/2009/09/23/berduka-atas-tragedi-%e2%80%9998/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Sep 2009 10:19:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sssssssssssssssss</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[98]]></category>
		<category><![CDATA[gerakan]]></category>
		<category><![CDATA[mahasiswa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akademikaunud.wordpress.com/?p=255</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Okrina Triwidanti Tahun ’98 adalah sejarah yang patut dibangakan mahasiswa. Tidak hanya berhasil mempersatukan diri. Tetapi juga mampu menggulingkan Sang Ditaktor-Soeharto. Meski bukan murni mahasiswa yang melakukannya. Namun ternyata insiden yang membanggakan itu bagai pisau bermata dua. Organisasi mahasiswa-UKM maupun ekstra kampus kala itu tengah panas menyusun demonstrasi. Bahkan jauh hari mengadakan diskusi. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akademikaunud.wordpress.com&amp;blog=4329659&amp;post=255&amp;subd=akademikaunud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Okrina Triwidanti</p>
<p>Tahun ’98 adalah sejarah yang patut dibangakan mahasiswa. Tidak hanya berhasil mempersatukan diri. Tetapi juga mampu menggulingkan Sang Ditaktor-Soeharto. Meski bukan murni mahasiswa yang melakukannya. Namun ternyata insiden yang membanggakan itu bagai pisau bermata dua.</p>
<p>Organisasi mahasiswa-UKM maupun ekstra kampus kala itu tengah panas menyusun demonstrasi. Bahkan jauh hari mengadakan diskusi. Atau pers mahasiswa mengambil porsi media mainstream-yang ketakutan setengah mati memberitakan Soeharto. Organisasi itu hidup, katanya orang-orang tua.</p>
<p>Arah diskusi tak pernah jauh dari pemerintah. Bedil kata-kata pers mahasiswa meringsek menembus pertahanan ditaktor yang hampir 32 tahun berkuasa. Semuanya persis tahu arah senapan mereka menuju pada satu, pemerintah yang otoriter. Bahkan ini terjadi bukan di satu daerah tetapi satu Indonesia.  Bisa di bayangkan energinya pasti besar.</p>
<p>Akhirnya mahasiswa Indonesia, agent of change, berhasil memaksa Soeharto turun. Dan hingga saat ini setiap orang yang menjadi mahasiswa bangga dengan fakta itu. Sayangnya, apa yang telah dicapai di ’98 kemudian tak dinyana berdampak pada kehidupan organisasi mahasiswa sekarang.</p>
<p>Sebab musuh telah habis maka bedil-bedil organisasi mahasiswa tak tahu harus diarahkan kemana. Kata seorang teman “<em>Sing ada gae buin (ga ada kerjaan lagi)</em><span id="more-255"></span>. Harusnya kita berduka atas ‘98” katanya tersenyum tanpa arti. Seorang kawan dari Makasar juga mengungkapkan hal yang sama. Tak tahu kemana lagi peluru ini akan ditembakkan. Tak ada lagi musuh bersama untuk ditumpas. Pemerintah sekarang terlihat sudah demokratis dan terbuka. Ck, apa lagi yang harus dipermasalahkan?</p>
<p>Masalahnya, para penggiat 98, mereka tak mempersiapkan angkatan di bawahnya untuk bentuk perubahan yang signifikan. Sedang petinggi yang harusnya diwaspadai sepertinya sudah jinak. Jadilah kawan mahasiswa yang tak tahan gerusan kenyamanan akibat petinggi jinak itu kolaps. Tak berdinamika bahkan hingga sekarang.</p>
<p>Kembali ke kampus atau daerah masing-masing hingga saat ini menjadi pilihan masing-masing. Isu bersama tak pernah tergali lagi. Dan mahasiswa kini sudah sangat nyaman. Yang harus diturunkan sudah diturunkan di 98. Semua pejabat dari rektorat hingga pemerintah kini terlihat telah terbuka dan demokratis. Atau justru kenyamanan yang menjadi musuh bersama sekarang? Ck..</p>
<p>Apa yang terjadi di tahun ’98 sangat membanggakan. Dan mahasiswa yang hidup sekarang bukan hanya wajib menikmati tetapi juga mencari arahan bedil lainnya. Apa semestinya kita berduka? Tidak. Sebab,bedil kita penuh dan siap mempreteli yang seharusnya dipreteli. Tinggal mencari yang harus dipreteli bukan?</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akademikaunud.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akademikaunud.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akademikaunud.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akademikaunud.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akademikaunud.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akademikaunud.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akademikaunud.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akademikaunud.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akademikaunud.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akademikaunud.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akademikaunud.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akademikaunud.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akademikaunud.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akademikaunud.wordpress.com/255/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akademikaunud.wordpress.com&amp;blog=4329659&amp;post=255&amp;subd=akademikaunud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akademikaunud.wordpress.com/2009/09/23/berduka-atas-tragedi-%e2%80%9998/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e92f36fb65c458c5a981e067384ebeba?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">akademikaunud</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Solilokui: Kata-kata yang Menginginkan Tempatnya</title>
		<link>http://akademikaunud.wordpress.com/2009/09/15/solilokui-kata-kata-yang-menginginkan-tempatnya/</link>
		<comments>http://akademikaunud.wordpress.com/2009/09/15/solilokui-kata-kata-yang-menginginkan-tempatnya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Sep 2009 12:48:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sssssssssssssssss</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akademikaunud.wordpress.com/?p=249</guid>
		<description><![CDATA[merindukan kedatanganmu, sedang aku kehabisan cara untuk berkata, aku rindu kamu, itu saja. ketika malam-malam kemarin kerap kamu datang dan malam hari ini menghilang. aku linglung. sedang aku terlalu cepat menimang sangka, oh aku mulai terjebak dalam prasangka dan mulai menduga-duga, tidak semestinya. menulis tentang kamu, bahkan ada beberapa tanda aku selipkan dalam kata-kata itu. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akademikaunud.wordpress.com&amp;blog=4329659&amp;post=249&amp;subd=akademikaunud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>merindukan kedatanganmu,</em></p>
<p>sedang aku kehabisan cara untuk berkata, aku rindu kamu, itu saja. ketika malam-malam kemarin kerap kamu datang dan malam hari ini menghilang. aku linglung. sedang aku terlalu cepat menimang sangka, oh aku mulai terjebak dalam prasangka dan mulai menduga-duga, tidak semestinya.</p>
<p><em>menulis tentang kamu</em>,</p>
<p>bahkan ada beberapa tanda aku selipkan dalam kata-kata itu. segala percakapan yang telah kita gelar dari malam satu ke malam lain, tanggal satu yang menggenapkan tanggal berikutnya, selalu aku salin dalam cerita yang bisa dengan mudahnya kamu temu.</p>
<p><em>menginginkan kamu,</em></p>
<p>mungkin benar ketika aku mau satu, aku akan telanjur menagih satu, satu, satu dan satu yang lain yang jika ditimbang-timbang aku menginginkan lebih dari satu. seperti itu mungkin ketika aku menginginkan kamu, selalu berharap lebih dari satu, mau dan semakin mau. melulu hanya mau dengan kamu meski malu-malu.</p>
<p><em>menafsirkan inginmu,</em></p>
<p>ketika aku diguyur bahkan oleh secangkir air dingin, tiba-tiba dingin dan beku. dan aku paham, kamu masih menginginkan cinta dua tahunmu itu, yang pernah kamu ceritakan padaku, malam itu pukul satu malam, kita bertamasya menyusuri jalan-jalan sepi dan sesekali mampir ke warung nasi. lalu, setumpuk urusan yang harus diselesaikan, dan aku lagi-lagi paham, aku bukanlah siapa-siapa. dan, di bangku goyang itu, senja itu,<span id="more-249"></span> kamu menyebutkan betapa inginnya memiliki rumah nan megah lengkap dengan nikmat duniawi.</p>
<p><em>menepikan kamu,</em></p>
<p>dan ketika kamu selalu datang, lagi-lagi tengah malam, aku meleleh meski seringkali berusaha menahan hati untuk tidak jatuh hati atau bahkan meladeni – aku telah kalah. meski teramat sulit, harus berpura-pura nyaman bermain hati dengan lelaki lain yang datang atau sesekali bermain dengan lelaki masa silam, tetap saja aku menginginkan kamu. segala cara, apapun itu jelas teramat sulit, aku tahu harus menepikan kamu. entahlah..</p>
<p><em>mengartikan kata-katamu,</em></p>
<p>mudah-mudahan saja mataku tidak terkecoh dengan kata-katamu, atau hatiku masih sekeras baja belum mampu dilebur seperti perkakas yang akhirnya menjadi rongsokan. tetapi, justru semakin gandrung aku menikmati kata-katamu dan semakin sulit pun untukku menahan hati. aku selalu menyertakan harapan, semoga lekas beroleh jawaban. mungkin itu omong kosong belaka. aku bukannya tidak peka, tapi aku telanjur menaruh curiga, mungkin memang ada yang keliru.</p>
<p><em>membuang semua rasa tentangmu</em>,</p>
<p>lelaki dan sensasi kupu-kupu, berulang kali aku berusaha menerbangkan memori-memori itu. meski hanya sekejap dan begitu cepat, tapi jelas ada yang tidak biasa,ada yang istimewa, padamu. Ketika masih belum paham akan apa yang terjadi, ketika belum juga beroleh secerca pelita, aku tahu sesegera mungkin harus bergegas. ketika mengibaratkan hati, seperti aliran air yang terus saja mengalir, bertemu riak-riak yang sesekali menggelitik, kerikil-kerikil yang sesekali mengganjal, berkelak-kelok menyusuri kanal-kanal yang hangat hingga suatu saat akan berhenti pada muara yang tepat, ku pikir singgah pada muaramu, tapi tidak juga. hm.. memang iya aku ingin berlabuh begitu dekat dengan dermagamu dan menjadi satu-satunya kapal yang boleh berdiam disana semaunya.</p>
<p>hingga aku tulis kata-kata ini aku masih menimang-nimang akan terus ingin berdiam pada aliran ini atau mengalir dan melabuhkan aliran ini ke tempat yang lebih jauh, yang mungkin saja tidak ku temu sehangat lubukmu..</p>
<p align="right">
<p align="right">Maret 2009</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akademikaunud.wordpress.com/249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akademikaunud.wordpress.com/249/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akademikaunud.wordpress.com/249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akademikaunud.wordpress.com/249/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akademikaunud.wordpress.com/249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akademikaunud.wordpress.com/249/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akademikaunud.wordpress.com/249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akademikaunud.wordpress.com/249/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akademikaunud.wordpress.com/249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akademikaunud.wordpress.com/249/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akademikaunud.wordpress.com/249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akademikaunud.wordpress.com/249/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akademikaunud.wordpress.com/249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akademikaunud.wordpress.com/249/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akademikaunud.wordpress.com&amp;blog=4329659&amp;post=249&amp;subd=akademikaunud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akademikaunud.wordpress.com/2009/09/15/solilokui-kata-kata-yang-menginginkan-tempatnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e92f36fb65c458c5a981e067384ebeba?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">akademikaunud</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Yang Dicetuskan Angin Hari Ini</title>
		<link>http://akademikaunud.wordpress.com/2009/09/15/yang-dicetuskan-angin-hari-ini/</link>
		<comments>http://akademikaunud.wordpress.com/2009/09/15/yang-dicetuskan-angin-hari-ini/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Sep 2009 12:39:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sssssssssssssssss</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[angin]]></category>
		<category><![CDATA[cetus]]></category>
		<category><![CDATA[hari]]></category>
		<category><![CDATA[sajak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akademikaunud.wordpress.com/?p=247</guid>
		<description><![CDATA[: yang dicetuskan angin hari ini sebab hasrat diri telah lama mati! “pernah kau tangkap bayanganmu yang berlari mengejar tubuhmu. Yang selalu mengintai dari balik jelaga yang sangat pekat. Diam-diam menimpali setiap jejak yang kau mainkan menuju peraduan. Dan langit yang masih saja menyaksikan kebodohan-kebodohanmu, opera orang dungu yang selalu memainkan lakon yang tidak sesuai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akademikaunud.wordpress.com&amp;blog=4329659&amp;post=247&amp;subd=akademikaunud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>: yang dicetuskan angin hari ini</p>
<p>sebab hasrat diri telah lama mati!</p>
<p>“pernah kau tangkap bayanganmu yang berlari mengejar tubuhmu. Yang selalu mengintai dari balik jelaga yang sangat pekat. Diam-diam menimpali setiap jejak yang kau mainkan menuju peraduan. Dan langit yang masih saja menyaksikan kebodohan-kebodohanmu, opera orang dungu yang selalu memainkan lakon yang tidak sesuai perannya. Ketika jerit ayam pejantan hanya sanggup mengusir kantuk yang menghinggapi matamu, tidak mengembalikan jiwamu yang benar-benar telah habis dikunyah malam yang bahkan lebih angker dari makam-makam keramat.”</p>
<p>: yang dicetuskan angin hari ini II</p>
<p>Sebab nurani telah lama pergi!</p>
<p>“kamu lihat cemara laut yang terus saja bergoyang dikecup angin, siang tadi. satu kecupan saja!tubuhnya bagai kesetanan, menagih dan terus menagih. benih macam apa yang ditanam di dasar akar-akar bakau itu: tempat anak cucuku, leluasa bercinta. kasmaran. bukankah angin selalu mengabarkan kerinduan akan kelahiran yang selalu menjelang di musim kawin.“<br />
Juli 2009</p>
<p align="right">A.Ditha</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akademikaunud.wordpress.com/247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akademikaunud.wordpress.com/247/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akademikaunud.wordpress.com/247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akademikaunud.wordpress.com/247/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akademikaunud.wordpress.com/247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akademikaunud.wordpress.com/247/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akademikaunud.wordpress.com/247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akademikaunud.wordpress.com/247/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akademikaunud.wordpress.com/247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akademikaunud.wordpress.com/247/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akademikaunud.wordpress.com/247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akademikaunud.wordpress.com/247/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akademikaunud.wordpress.com/247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akademikaunud.wordpress.com/247/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akademikaunud.wordpress.com&amp;blog=4329659&amp;post=247&amp;subd=akademikaunud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akademikaunud.wordpress.com/2009/09/15/yang-dicetuskan-angin-hari-ini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e92f36fb65c458c5a981e067384ebeba?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">akademikaunud</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Duh Gusti…</title>
		<link>http://akademikaunud.wordpress.com/2009/09/08/duh-gusti%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://akademikaunud.wordpress.com/2009/09/08/duh-gusti%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Sep 2009 09:00:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sssssssssssssssss</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akademikaunud.wordpress.com/?p=243</guid>
		<description><![CDATA[“Beh, luh-luhne liu mepupur jani, jeg lais!” celetuk salah seorang lelaki yang suaranya samar-samar terdengar akibat menggelegarnya suara speaker alat pemutar musik house malam tahun baru kemarin. Ekspresinya pun tak tampak jelas, remang-remang lilin hanya membiarkan bayanganya berbaju safari muncul. Suara ribut orang-orang memegang gelas di tangan kiri, dan botol besar  berisi air berwarna air [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akademikaunud.wordpress.com&amp;blog=4329659&amp;post=243&amp;subd=akademikaunud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em> </em></p>
<p style="text-align:center;"><em>“Beh, luh-luhne liu mepupur jani, jeg lais!” celetuk salah seorang lelaki yang suaranya samar-samar terdengar akibat menggelegarnya suara speaker alat pemutar musik house malam tahun baru kemarin. </em></p>
<p style="text-align:center;">
<p>Ekspresinya pun tak tampak jelas, remang-remang lilin hanya membiarkan bayanganya berbaju safari muncul. Suara ribut orang-orang memegang gelas di tangan kiri, dan botol besar  berisi air berwarna air kencing ditangan kanan sekaligus menemani kalimat itu meluncur dari mulut lelaki itu.</p>
<p>Kalimat itu seketika membuat saya berpikir panjang. Tentang saya. Tentang manusia Bali. Tentang Bali yang katanya pulau dewa. Saya kembali terlempar ke malam itu, malam di mana membuat saya tidak berhenti berdecak, berdecak kecewa akan manusia Bali yang katanya berbudaya, manusia Bali yang katanya religius.</p>
<p>Bali yang berbudaya dan manusia bali yang religiuslah yang jelas-jelas menghalalkan penggalian dana dengan bazaar malam yang kenyataannya tak ubahnya seperti kafe remang-remang atau diskotik yang menawarkan perempuan-perempuan Bali serta musik <em>maknyos</em> nan menggelegar. Miris saya, ketika dengan terpaksa harus begadang di malam tahun baru<span id="more-243"></span> hanya menemani orang mabuk dan ngomong tak jelas. Bertambah miris menyadari diri sedang ada di dalam pura, di mana saya dan <em>pemedek</em> yang lain biasa bersila dan bersimpuh melipat tangan di atas ubun-ubun setiap enam bulan sekali. Dan saat itu, pertiwi tempat suci itu bercampur bau alkohol dan ludah beraroma bir. Miris hati saya.</p>
<p>Kenapa? Kenapa lantas hal seperti itu membudaya di pulau kelahiran saya, di tempat yang kata orang-orang tua tempat yang dipenuhi manusia berakhlak dan beragama. Duh Gusti, kenapa lantas hal seperti itu terlampau biasa di pulau yang kata Gede Prama Pulau yang paling bersinar di bumi karena aura religiusnya?</p>
<p>Saya masih sangat familiar dengan obrolan-obrolan ringan ibu-ibu di banjar yang mengeluhkan suara menggelegar setiap tengah malam. Suara warung malam di dekat banjar saya yang siap sedia menyediakan kehidupan malam plus perempuan penikmat itu membuat tetangga-tetangga saya tak berhenti menghujat. Menghujat perempuan-perempuan penikmat yang kata mereka adalah <em>perempuan</em> yang tidak berakhlak. Tapi apa bedanya lantas dengan kami, yang tiap tahun mengadakan bazaar. Kami juga melayani pemabuk, kami juga menemani orang minum alkohol, kami juga menyediakan musik menggelegar nan <em>maknyos</em>. Apa kami juga tidak berakhlak?</p>
<p><em>Perempuan tersebut</em> dibilang tidak berakhlak. Tapi sendiri menghalalkan penggalian dana ala diskotik. Di luar berkoar-koar mentabukan diskotik dan kafe remang-remang. Namun, untuk membangun pura, menyulap pura bak diskotik dan kafe yang betebaran di Kuta. Apalah ini bedanya? Tabik!</p>
<p><strong>-dwi yuniati-</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akademikaunud.wordpress.com/243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akademikaunud.wordpress.com/243/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akademikaunud.wordpress.com/243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akademikaunud.wordpress.com/243/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akademikaunud.wordpress.com/243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akademikaunud.wordpress.com/243/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akademikaunud.wordpress.com/243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akademikaunud.wordpress.com/243/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akademikaunud.wordpress.com/243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akademikaunud.wordpress.com/243/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akademikaunud.wordpress.com/243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akademikaunud.wordpress.com/243/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akademikaunud.wordpress.com/243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akademikaunud.wordpress.com/243/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akademikaunud.wordpress.com&amp;blog=4329659&amp;post=243&amp;subd=akademikaunud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akademikaunud.wordpress.com/2009/09/08/duh-gusti%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e92f36fb65c458c5a981e067384ebeba?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">akademikaunud</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dulu Pembantu, Sekarang Pekerja Seks</title>
		<link>http://akademikaunud.wordpress.com/2009/09/08/dulu-pembantu-sekarang-pekerja-seks/</link>
		<comments>http://akademikaunud.wordpress.com/2009/09/08/dulu-pembantu-sekarang-pekerja-seks/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Sep 2009 08:42:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sssssssssssssssss</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akademikaunud.wordpress.com/?p=240</guid>
		<description><![CDATA[Baju ketatnya terbuka sedikit memperlihatkan sebidang kulit mulus di dalamnya. Rambut hitamnya tergerai di bahu, membingkai wajah lugunya. Sesekali ia tersenyum kecil.  Tubuhnya tidak sintal, namun masih bertahan melayani pelanggan. “Dulu saya kerja sebagai pembantu. Sekarang sudah 3 tahun jadi PS (pekerja seks),” ujar Ana- salah seorang PS lokalisasi Carik Gatsu di tengah- tengah pertanyaan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akademikaunud.wordpress.com&amp;blog=4329659&amp;post=240&amp;subd=akademikaunud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><em>Baju ketatnya terbuka sedikit memperlihatkan sebidang kulit mulus di dalamnya. Rambut hitamnya tergerai di bahu, membingkai wajah lugunya. Sesekali ia tersenyum kecil.  Tubuhnya tidak sintal, namun masih bertahan melayani pelanggan.</em></p>
<p>“<em>Dulu saya kerja sebagai pembantu. Sekarang sudah 3 tahun jadi PS (pekerja seks),</em>” ujar Ana- salah seorang PS lokalisasi Carik Gatsu di tengah- tengah pertanyaan para peserta pelatihan pers kampus yang diadakan KPA Bali Minggu (5/7) kemarin.  Iapun menuturkan keterpaksaannya menjadi pekerja seks. Awalnya ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Namun lama- kelamaan, kebutuhan ekonominya dan keluarga semakin bertambah. Maka ia mengambil keputusan untuk menjadi pekerja seks. Bermula dari ajakan seorang teman untuk hijrah ke Bali dan mengatakan peluang pekerja seks sangat besar.</p>
<p>Hal serupa disampaikan oleh Wayan Sari, salah satu bos lokalisasi Carik. Pekerja- pekerja seks di sana memang sebagian besar karena masalah ekonomi. Sejauh ini sudah beberapa pekerja seks menetap lama karena ekonomi mereka perlahan terobati.  Namun syukurnya,  lokalisasi Carik mendapatkan bantuan Rumah Singgah dari yayasan Kerti Praja. Bantuan tersebut  sangat membantu kehidupan PS terutama dalam urusan kesehatan seksual.</p>
<p>“<em>Lokalisasi memang tidak dilegalkan, namun mau gimana lagi? Daripada mereka tidak terdata</em>? Sampai saat ini saja udah 35 orang tercatat HIV/AIDS di sini,” ungkap Mercya- KPA Bali menanggapi pertanyaan peserta perihal legalitas lokalisasi. Ia memaparkan kelebihan yang didapatkan dengan kerjasama antar bos lokalisasi. Mereka bisa mendata berapa PS yang terjangkit HIV ataupun penyakit menular lainnya. Selain untuk pendataan, hal ini sangat berguna dalam memberikan pengertian nge’seks’ aman. Tujuan pendataan tak bukan agar KPA bisa memantau berapa banyak PS yang terjangkit.</p>
<p>Selain pendataan dan pengertian nge’seks’ aman, KPA juga berusaha agar tramtib bisa bekerja sama. Menurut penuturan Wayan Sari, tramtib- tramtib dulu biasanya main tangkap saja. Jika sudah begitu biasanya para PS akan pergi menyebar kemana- mana. Hal itu merepotkan KPA dalam pendataan PS terutama yang terjangkit virus- virus penyakit menular seksual. Oleh karena itulah kerjasama antar Bos lokalisasi dan Tramtib sangat memabntu KPA.</p>
<p>Pelatihan jurnalistik yang berlangsung akhir pekan lalu memang diharapkan membuat para peserta dapat membuka mata terhadap persoalan pelik seputar HIV/AIDS.  Hal itu sudah dibuktikan peserta dengan kunjungan langsung ke lokalisasi. Banyak peserta mengaku terkejut dan kaget karena baru pertama datang dan mengenal tempat seperti ini.  Sebut Saja Ayu yang mengutarakan ketakjubannya saat Ana menjawab pertanyaan tentang umur para pelanggannya.</p>
<p>“<em>Paling tua 45 tahun, pernah juga saya dapet anak SMP</em>,” <span id="more-240"></span>ujar Ana sambil tersenyum. Wanita beranak satu inipun mengaku tidak hanya sekali ia mendapat pelanggan anak SMP melainkan beberapa kali. Bahkan ada yang sampai 2x kesini orang yang sama. Anapun menuturkan keheranannya mengapa anak SMP sampai datang ke tempat ini. “<em>Yah kadang kasihan juga, mereka minta uang sama orang tua untuk ke tempat kayak gini.Tapi mereka mau nyewek, gimana lagi? Layani aja</em>,” tukasnya sambil tertawa kecil.</p>
<p>-Lina Pratica Wijaya-</p>
<p style="text-align:center;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akademikaunud.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akademikaunud.wordpress.com/240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akademikaunud.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akademikaunud.wordpress.com/240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akademikaunud.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akademikaunud.wordpress.com/240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akademikaunud.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akademikaunud.wordpress.com/240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akademikaunud.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akademikaunud.wordpress.com/240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akademikaunud.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akademikaunud.wordpress.com/240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akademikaunud.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akademikaunud.wordpress.com/240/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akademikaunud.wordpress.com&amp;blog=4329659&amp;post=240&amp;subd=akademikaunud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akademikaunud.wordpress.com/2009/09/08/dulu-pembantu-sekarang-pekerja-seks/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e92f36fb65c458c5a981e067384ebeba?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">akademikaunud</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kematian Misterius Para Pembaru Indonesia: Orang-Orang Cerdas yang Mati Ditangan Bangsanya Sendiri  Pembaru Indonesia yang (di)Hilang(kan)</title>
		<link>http://akademikaunud.wordpress.com/2009/08/29/kematian-misterius-para-pembaru-indonesia-orang-orang-cerdas-yang-mati-ditangan-bangsanya-sendiri-pembaru-indonesia-yang-dihilangkan/</link>
		<comments>http://akademikaunud.wordpress.com/2009/08/29/kematian-misterius-para-pembaru-indonesia-orang-orang-cerdas-yang-mati-ditangan-bangsanya-sendiri-pembaru-indonesia-yang-dihilangkan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Aug 2009 07:58:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sssssssssssssssss</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akademikaunud.wordpress.com/?p=192</guid>
		<description><![CDATA[Tidak mudah menjadi kritis di Indonesia. Salah-salah, nama anda semakin cepat terukir di nisan. Tidak percaya? Orang-orang ini sudah membuktikannya. Melongok sejarah Indonesia abad ke-20 dan awal abad-21, niscaya kita menemukan betapa banyaknya darah yang telah tumpah di bumi pertiwi. Sampai-sampai ada yang bilang, bahwa Indonesia is a violent country. Yang menyedihkan, (sebagian) tragedi itu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akademikaunud.wordpress.com&amp;blog=4329659&amp;post=192&amp;subd=akademikaunud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tidak mudah menjadi kritis di Indonesia. Salah-salah, nama anda semakin cepat terukir di nisan. Tidak percaya? Orang-orang ini sudah membuktikannya.</p>
<p>Melongok sejarah Indonesia abad ke-20 dan awal abad-21, niscaya kita menemukan betapa banyaknya darah yang telah tumpah di bumi pertiwi. Sampai-sampai ada yang bilang, bahwa <em>Indonesia is a violent country</em>. Yang menyedihkan, (sebagian) tragedi itu disebabkan atau dilakukan oleh pihak yang paling berkuasa, negara. Patut menjadi perhatian, selain kasus-kasus yang bersifat massal, ada lagi perkara kekerasan yang memiliki kategori idiosinkratis.</p>
<p><img class="size-medium wp-image-237 alignleft" title="DSCI3299" src="http://akademikaunud.files.wordpress.com/2009/08/dsci3299.jpg?w=192&#038;h=300" alt="DSCI3299" width="192" height="300" />Kematian yang terjadi bukan dikaitkan pada tanggal atau tempat terjadinya, melainkan identitas si korban. Almarhum dianggap sebagai sebuah representasi yang mumpuni dari suatu konstruksi ideal, yang ternyata, dalam banyak hal berbeda bahkan berlawanan dengan visi negara. Bisa jadi negara atau pendukung-pendukungnya terusik dengan perlawanan ini sehingga berusaha mencari jalan untuk menghentikannya.<span id="more-192"></span></p>
<p>Jika Anda seorang pembaru, maka hati-hatilah hidup di Indonesia. Fakta sejarah menunjukkan bagaimana nasib para tokoh pemberani negeri ini, sepertinya harus mempertaruhkan nyawanya secara sia-sia. Bagaimana tidak sia-sia, jika pengadilan sendiri tidak mampu menyibak kabut tebal misteri kematian mereka. Dalam hal ini pihak penegak hukum pun tidak bisa berbuat banyak untuk mengungkap kebenaran. Betapa ironisnya, bangsa yang tampaknya besar; besar dalam ukuran wilayahnya yang seluas Eropa dan Amerika, besar dalam jumlah penduduknya, dan besar dalam kekayaanya, namun kerdil jiwa para pemimpinnya.</p>
<p>Ketidakberhasilan mengungkap aktor intelektual di balik kematian misterius para pemberani setidaknya menunjukkan bagaimana para pemimpin ini tidak serius untuk mengungkapkan kasus kematian yang tidak wajar. Hal ini semakin memperkuat asumsi adanya unsur kesengajaan para penguasa negeri ini untuk melenyapkannya. Barangkali dalam bingkai itulah bisa ditempatkan tokoh-tokoh yang tragedi kematiannya dibahas dalam buku ini. Buku ini sengaja ditulis untuk dokumentasi tentang perjalanan para tokoh pembaru Indonesia yang selamanya tidak akan masuk dalam sejarah perjuangan bangsa. Mereka adalah Tan Malaka, Marsinah, Fuad Muhammad Syafruddin (Udin), Wiji Thukul, Baharuddin Lopa, dan Munir.</p>
<p>Kematian yang tidak wajar dan pengungkapan yang tidak kunjung selesai bahkan hilang ditelan waktu telah menjadikan inspirasi bagi sang penulis, M Yuanda Zara, untuk mengkritisi kembali tentang mudahnya menyelesaikan masalah dalam bangsa ini. Sepatah kata: lenyapkan saja! di balik kematian tokoh-tokoh pembaru Indonesia itu cukup ampuh sebagai jalan pintas tercepat membungkam perjuangan para pembaru Indonesia.</p>
<p>Lalu, apa yang dimaksud dengan kematian misterius dalam buku ini? M Yuanda Zara mengulas beberapa kategori yang dapat digunakan untuk menjelaskannya, meski masing-masing dapat dikatakan cair atau tidak ketat. Pertama, tokoh yang kematiannya tidak terungkap, atau bisa juga disembunyikan, baik penyebab maupun pelakunya. Tan Malaka masuk disini. Kedua, tokoh yang terbukti dibunuh, namun pengungkapan kematiannya (termasuk proses peradilan) belum tuntas. Di sini ada Marsinah, Udin, dan Munir. Ketiga, tokoh yang kematiannya menjadi kontroversi, yakni Baharuddin Lopa. Keempat, yang jauh berbeda dari yang di atas, tokoh yang kematiannya tidak diketahui dengan jelas atau samar-samar, yaitu Wiji Thukul.</p>
<p>Sementara itu, paradoksnya ialah, kendati nama-nama yang disebutkan di atas merupakan orang-orang yang memiliki peranan signifikan sepanjang perjalanan bangsa ini sehingga pantas disebut sebagai pembaru Indonesia, namun mereka kerap menunjukkan sikap berseberangan dengan institusi-institusi yang diidentikkan dengan simbol negara. Tan Malaka, tidak diragukan lagi, adalah salah satu pemimpin gerakan kabangsaan yang paling terkemuka. Jauh sebelum Soekarno dan Hatta mendeklarasikan Indonesia sebagai sebuah republik, ia sudah menulis Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia) sehingga membuatnya dikenal sebagai “Bapak Republik Indonesia”.</p>
<p>Walaupun demikian, konsep “Merdeka 100 %” yang diperjuangkannya jelas telah membuat sebagian kaum republiken tidak senang padanya. Kemerdekaan Indonesia pun tidak mengendurkan semangat Tan Malaka untuk melakukan kritik terhadap penyimpangan yang terjadi. Ia acap kali terlibat konflik dengan Soekarno yang memimpin pemerintahan republik. Tidak hanya itu, dengan partainya sendiri, PKI, Tan Malaka juga banyak tidak akur. Sebagian hidupnya habis dalam pembuangan di luar negeri. Ia terhitung sangat jarang bahkan tidak pernah muncul di permukaan. Hal ini membuatnya menjadi tokoh politik yang paling misterius sepanjang sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.</p>
<p>Banyak asumsi tentang misteri kematian Tan Malaka. Dengan mencoba mendedah berbagai versi yang berkembang, tulisan Yuanda Zara ini mencoba menguak misteri tewasnya Tan Malaka, salah satu peristiwa penting yang ditutup-tutupi dalam sejarah Indonesia.</p>
<p>Marsinah, siapakah dia? Ia adalah buruh yang percaya bahwa kesejahteraan yang baik adalah hak, sekali lagi hak, bagi para buruh. Adicitanya inilah yang mendorong kawan-kawan sesama buruh rela menunjukkan dukungan di belakangnya. Namun, dugaan adanya keterlibatan aparat militer di balik kematiannya menjelaskan betapa ia tidak disenangi kekuasaan.</p>
<p>Udin, dengan ketajaman penanya, memiliki dan mempelopori pengertian yang sama tentang hak. Bagi Udin, yang berikhtiar jauh dari Jakarta, kebebasan mendapatkan informasi adalah keniscayaan, termasuk bagi warga desa. Informasi di sini tidak hanya mengenai keberhasilan pembangunan, tetapi juga penyelewengan dan penyalahgunaan kekuasaan, yang notabene menempatkan rakyat kecil sebagai korbannya. Sayangnya, tepat di sini pula birokrasi lokal tidak sudi digoyang oleh tulisan-tulisan Udin. Banyak spekulasi yang berkembang pasca kematian wartawan Bernas ini, banyak pihak yang menduga ada tembok besar bernama kekuasaan yang mencoba melindungi pelaku dan aktor intelektualnya.</p>
<p>Wiji Thukul juga tak jauh beda. Ia adalah seorang pemrakarsa satra kerakyatan (baca: sastra kaum tertindas). Aktivitas keseniannya yang intens, baik dalam hal tema yang diangkat maupun <em>performance</em>, menandakan konsistensinya sebagai oposan Orde Baru. Atas kezaliman yang terjadi, bagi Thukul hanya ada satu kata: lawan! Kata itu, harus diakui, kini telah menjadi kredo bergradasi magis bagi para aktivis pergerakan. Namun, apa daya, Thukul harus sadar tengah berhadapan dengan siapa. Tangan-tangan kuasa jauh lebih kuat daripada suara Thukul. Thukul harus membayar mahal apa yang disuarakanya, meskipun sebenarnya itu adalah hak asasinya sebagai warga negara. Maka, ia pun (di)hilang(kan). Dan, hingga kini tak seorang pun tahu nasibnya.</p>
<p>Sementara itu, nama Baharuddin Lopa mungkin sedikit berbeda. Sosok yang sangat antikorupsi ini sebenarnya meniti karirnya semata-mata di bawah lingkup kenegaraan. Namun, kepergiannya yang tiba-tiba sulit diterima begitu saja. Pendekar hukum ini mungkin bukanlah musuh negara, tapi lebih tepat dikatakan sebagai lawan kekuasaan. Ada yang menyebut Lopa sebagai sebuah <em>profile of courage</em> seperti Elliot Ness dalam film The Untouchable, sesosok yang rela disebut naif karena akan mengobrak-abrik “mafia” dengan selembar kertas himbauan. Lopa sudah membuktikannya. Jalan sudah diretas Lopa. Sekarang tinggal melihat bagaimana penerusnya melanjutkan jejak Lopa. Jejak yang dimaksud tidak hanya konsistensi dalam usaha penegakan hukum., tetapi juga termasuk kemungkinan untuk “meninggal tidak wajar”.</p>
<p>Terakhir, Munir. Pengaruhnya sama dengan makna namanya: cahaya. Ia ibarat penerang bagi para buruh, aktivis mahasiswa serta keluarga korban kekerasan dan penghilangan paksa. Lewat bendera Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Munir merekam namanya di benak orang sebagai pejuang HAM yang berani, intelek, jujur sekaligus jenaka. Orang paham, aksi-aksinya di KontraS kerap menuding negara dan aparat-aparatnya.</p>
<p>Dugaan keterlibatan aparat intelijen dalam kematiannya semakin menegaskan pendapat bahwa ada bagian-bagian tertentu dalam institusi negara yang tidak terima dengan sepak terjangnya. Munir adalah fenomena. Bila dalam bidang hukum Indonesia punya sosok tangguh sekaliber Baharuddin Lopa, maka di bidang penegakan HAM Munirlah orangnya. Misteri kematian tidak wajar Munir tentu mesti disibak dengan tuntas. Memakai bahasanya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, kasus ini adalah <em>test of our history</em>, sebuah ujian dari sejarah kita. Dalam merefleksikan ini, para aktivis KontraS mengungkapkan bahwa sebagai sebuah ujian, keberhasilan membongkar konspirasi rahasia yang menyebabkan meninggalnya Munir akan menjadi isyarat bahwa nyawa setiap orang sangat berharga sehingga tidak bisa dihilangkan begitu saja. Dalam tahap selanjutnya, kasus pembunuhan Munir bukan lagi sekedar pembunuhan biasa, melainkan penentu dari masa depan demokrasi Indonesia.</p>
<p>Buku ini tidak memiliki kecenderungan untuk menuduh siapapun. Mencari, memastikan, dan menghukum pelakunya merupakan otoritas aparat penegak hukum. Meski sederhana, Yuanda Zara mampu memaparkan dengan lugas berbagai asumsi yang berkembang dan memberikan ruang bagi pembaca untuk menemukan perspektifnya sendiri. Kematian yang menimpa para tokoh pembaru Indonesia menyiratkan satu hal penting, kini dan esok. Tuntasnya semua kasus yang ada dengan transparan serta diadilinya para pelaku sesuai dengan hukum akan menjadi anteseden bagi sebuah kehidupan yang bermoral dan beradab. Estuarinya, hak seseorang untuk hidup dapat diakui dan diberi penghargaaan yang tinggi.</p>
<p>Data Buku</p>
<p>Judul Buku : Kematian Misterius Para Pembaru Indonesia. Orang-Orang Cerdas yang Mati Ditangan Bangsanya Sendiri</p>
<p>Penulis : M. Yuanda Zara</p>
<p>Penerbit : Penerbit Pinus</p>
<p>Halaman : 204 halaman</p>
<p>Tahun terbit : 2007</p>
<p>Surya Triana Dewi</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akademikaunud.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akademikaunud.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akademikaunud.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akademikaunud.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akademikaunud.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akademikaunud.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akademikaunud.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akademikaunud.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akademikaunud.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akademikaunud.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akademikaunud.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akademikaunud.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akademikaunud.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akademikaunud.wordpress.com/192/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akademikaunud.wordpress.com&amp;blog=4329659&amp;post=192&amp;subd=akademikaunud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akademikaunud.wordpress.com/2009/08/29/kematian-misterius-para-pembaru-indonesia-orang-orang-cerdas-yang-mati-ditangan-bangsanya-sendiri-pembaru-indonesia-yang-dihilangkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e92f36fb65c458c5a981e067384ebeba?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">akademikaunud</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://akademikaunud.files.wordpress.com/2009/08/dsci3299.jpg?w=192" medium="image">
			<media:title type="html">DSCI3299</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Agung Wardana:  Persoalan Lingkungan, Persoalan Bersama</title>
		<link>http://akademikaunud.wordpress.com/2009/08/29/agung-wardana-persoalan-lingkungan-persoalan-bersama/</link>
		<comments>http://akademikaunud.wordpress.com/2009/08/29/agung-wardana-persoalan-lingkungan-persoalan-bersama/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Aug 2009 07:53:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sssssssssssssssss</dc:creator>
				<category><![CDATA[Figur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akademikaunud.wordpress.com/?p=189</guid>
		<description><![CDATA[Pada tahun 2005, bencana tsunami melanda daerah Aceh dan sekitarnya, turut mengundang simpati seluruh masyarakat Indonesia. Dari sana rupanya perjalanan Agung Ardana, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Bali berawal sebagai aktifis lingkungan. “Dengan menjadi relawan kemahasiswaan saat itu, menyadarkan bahwa alam dapat begitu besar merusak jika kita tidak turut menjaganya,” ungkapnya. Bumi kita [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akademikaunud.wordpress.com&amp;blog=4329659&amp;post=189&amp;subd=akademikaunud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-medium wp-image-190" title="Agung 1" src="http://akademikaunud.files.wordpress.com/2009/08/agung-1.jpg?w=300&#038;h=224" alt="Agung 1" width="300" height="224" /></p>
<p>Pada tahun 2005, bencana tsunami melanda daerah Aceh dan sekitarnya, turut mengundang simpati seluruh masyarakat Indonesia. Dari sana rupanya perjalanan Agung Ardana, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Bali berawal sebagai aktifis lingkungan. “Dengan menjadi relawan kemahasiswaan saat itu, menyadarkan bahwa alam dapat begitu besar merusak jika kita tidak turut menjaganya,” ungkapnya.</p>
<p>Bumi kita saat ini sudah semakin rentan, sehingga permasalahan lingkungan hidup merupakan hal yang sangat penting. Di seluruh wilayah di Indonesia, banyak permasalahan lingkungan yang terjadi. Apa yang telah terjadi di Aceh, menurutnya tak semata-mata hanya karena bencana alam. Aktivitas manusia dalam pengeboran lepas pantai misalnya, memperparah keadaan sehingga bencana besar tak terelakkan lagi.</p>
<p>Kita patut berbangga bahwa salah satu solusi untuk isu <em>global warming</em> (pemanasan global-red), dicetuskan oleh masyarakat dan dibawahi WALHI serta LSM lingkungan lainnya. Yaitu dengan mengagendakan World Silent Day (Hari Hening Sedunia, yang diadaptasi dari Nyepi masyarakat Bali, untuk mengurangi kadar karbon di udara. “Tentunya yang diambil disini adalah esensi lingkungannya, bukan agama. Ini bukan misionaris untuk menghindukan masyarakat. Dengan tidak melakukan aktivitas selama empat jam setahun, berarti kita memberikan bumi waktu untuk bernafas dan memperbaiki sistemnya yang rusak,” papar aktifis lingkungan ini.</p>
<p>Lebih lanjut, Agung mengajak kaum muda untuk mempersatukan diri, menjaga dan menyadari arti lingkungan untuk kehidupan manusia itu sendiri. “Permasalahan lingkungan itu bukan hanya persoalan aktivis lingkungan saja. Itu persoalan kita bersama. Jika lingkungan rusak, tak hanya aktivis lingkungan yang kena akibatnya. Pun jika lingkungan stabil dan sehat, seluruh masyarakat yang menerima hasilnya,” kata pria yang pernah tergabung dalam PBLH ini serius.</p>
<p>Tulisan dan Foto: Dian Purnama</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akademikaunud.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akademikaunud.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akademikaunud.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akademikaunud.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akademikaunud.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akademikaunud.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akademikaunud.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akademikaunud.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akademikaunud.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akademikaunud.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akademikaunud.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akademikaunud.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akademikaunud.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akademikaunud.wordpress.com/189/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akademikaunud.wordpress.com&amp;blog=4329659&amp;post=189&amp;subd=akademikaunud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akademikaunud.wordpress.com/2009/08/29/agung-wardana-persoalan-lingkungan-persoalan-bersama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e92f36fb65c458c5a981e067384ebeba?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">akademikaunud</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://akademikaunud.files.wordpress.com/2009/08/agung-1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Agung 1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Niskalawati:  Mahasiswa, Berdinamikalah!</title>
		<link>http://akademikaunud.wordpress.com/2009/08/29/niskalawati-mahasiswa-berdinamikalah/</link>
		<comments>http://akademikaunud.wordpress.com/2009/08/29/niskalawati-mahasiswa-berdinamikalah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Aug 2009 07:45:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sssssssssssssssss</dc:creator>
				<category><![CDATA[Figur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akademikaunud.wordpress.com/?p=183</guid>
		<description><![CDATA[Macet. Demikian ungkap Niskala, mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Udayana (Unud) yang kini menjabat sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cabang Denpasar periode 2007-2008, atas permasalahan dinamika mahasiswa. Mahasiswa sekarang cenderung apatis. Datang ke kampus hanya untuk kuliah, lalu pulang. Ingin cepat lulus dan bekerja, tanpa memikirkan hidup berorganisasi. “Padahal dengan berorganisasi, banyak keuntungan yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akademikaunud.wordpress.com&amp;blog=4329659&amp;post=183&amp;subd=akademikaunud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Macet. Demikian ungkap Niskala, mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Udayana (Unud) yang kini menjabat sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cabang Denpasar periode 2007-2008, atas permasalahan dinamika mahasiswa. Mahasiswa sekarang cenderung apatis. Datang ke kampus hanya untuk kuliah, lalu pulang. Ingin cepat lulus dan bekerja, tanpa memikirkan hidup berorganisasi.</p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-186" title="Mbak Niskala1" src="http://akademikaunud.files.wordpress.com/2009/08/mbak-niskala11.jpg?w=300&#038;h=224" alt="Mbak Niskala1" width="300" height="224" /></p>
<p>“Padahal dengan berorganisasi, banyak keuntungan yang didapat. Wawasan mengenai persoalan-persoalan sosial, isu-isu terkini, dan kawan-kawan baru dengan berbagai pola pikirnya, semua dapat kita temukan dalam organisasi,” ungkapnya.<span id="more-183"></span></p>
<p>Ia menilai pihak rektorat kurang memacu semangat mahasiswa untuk berdinamika dan berorganisasi. Akibatnya, justru saat ini, senat mahsiswa universitas dan fakultas pun cenderung macet. Kesengajaan menekan dinamika mahasiswa bahkan terkesan muncul dari kebijakan-kebijakan rektorat saat ini. Salah satunya dapat ditangkap dari kejadian pengambilalihan kegiatan GEMPITA (sekarang PKKMB-red) oleh rektorat sehingga sedikit banyak mengurangi porsi peran mahasiswa.</p>
<p>Seharusnya mahasiswa sekarang ini mampu bergerak aktif. “Tak hanya terpaku pada trend melakukan kegiatan sehari, tanpa tujuan jangka panjang, seperti festival band, seminar sehari. Kegiatan yang dibudayakan semestinya adalah kegiatan yang memiliki <em>follow up</em> ke depan,” ujarnya. Menurutnya, pihak rektorat harus membangkitkan kembali UKM-UKM. Dan yang paling utama, BEM universitas dan fakultas yang kinerjanya dinilai melempem dan cenderung menurun, harus lebih menaruh perhatian pada minat mahasiswa dan penyalurannya. Jika tidak, niscaya, untuk bergabung dalam kepengurusan BEM pun mahasiswa kurang tertarik.</p>
<p>Dian Purnama</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akademikaunud.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akademikaunud.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akademikaunud.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akademikaunud.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akademikaunud.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akademikaunud.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akademikaunud.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akademikaunud.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akademikaunud.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akademikaunud.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akademikaunud.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akademikaunud.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akademikaunud.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akademikaunud.wordpress.com/183/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akademikaunud.wordpress.com&amp;blog=4329659&amp;post=183&amp;subd=akademikaunud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akademikaunud.wordpress.com/2009/08/29/niskalawati-mahasiswa-berdinamikalah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e92f36fb65c458c5a981e067384ebeba?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">akademikaunud</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://akademikaunud.files.wordpress.com/2009/08/mbak-niskala11.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Mbak Niskala1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Putu Sri Puji Astuti: Cintai Negara di Atas Diri Sendiri</title>
		<link>http://akademikaunud.wordpress.com/2009/08/29/putu-sri-puji-astuti-cintai-negara-di-atas-diri-sendiri/</link>
		<comments>http://akademikaunud.wordpress.com/2009/08/29/putu-sri-puji-astuti-cintai-negara-di-atas-diri-sendiri/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Aug 2009 07:39:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sssssssssssssssss</dc:creator>
				<category><![CDATA[Figur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akademikaunud.wordpress.com/?p=179</guid>
		<description><![CDATA[Tampaknya kita masih harus bercermin untuk menggali makna kebangkitan nasional yang baru saja kita jelang. Tak dapat dipungkiri, masyarakat menilai bahwa generasi muda saat ini kebanyakan cenderung lebih bersifat hedon daripada memikirkan persoalan nasional bangsanya. Keresahan ini disadari pula oleh Putu Sri Puji Astuti, koordinator National Integration Movement (Gerakan Integrasi Nasional-NIM) Denpasar. Perempuan kelahiran Yogyakarta [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akademikaunud.wordpress.com&amp;blog=4329659&amp;post=179&amp;subd=akademikaunud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tampaknya kita masih harus bercermin untuk menggali makna kebangkitan nasional yang baru saja kita jelang. Tak dapat dipungkiri, masyarakat menilai bahwa generasi muda saat ini kebanyakan cenderung lebih bersifat hedon daripada memikirkan persoalan nasional bangsanya. Keresahan ini disadari pula oleh Putu Sri Puji Astuti, koordinator National Integration Movement (Gerakan Integrasi Nasional-NIM) Denpasar.</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-181" title="Mbak Cicha 1" src="http://akademikaunud.files.wordpress.com/2009/08/mbak-cicha-1.jpg?w=300&#038;h=224" alt="Mbak Cicha 1" width="300" height="224" /></p>
<p>Perempuan kelahiran Yogyakarta ini mengungkapkan, keresahannya akan gaya hidup generasi muda masa kini yang cenderung instan. Dalam artian, bahwa para pemuda terlalu terbawa ke dalam pengaruh modernisasi sebagai pengaruh pendidikan media dengan progam-programnya yang menjual mimpi-mimpi. “Padahal peran pemuda sangat penting bagi suatu bangsa, karena dari sanalah muncul dan tumbuh pucuk-pucuk generasi penerus selanjutnya. Terlebih, Indonesia sejak dulu telah menjadi incaran bangsa-bangsa lain. Sehingga menyusutnya nasionalisme akan membantu mereka merongrong kembali bangsa kita yang sangat kaya ini,” ungkapnya.<span id="more-179"></span></p>
<p>Ia sendiri memilih untuk bergabung dengan NIM sebagai wadah untuk semangat kebangsaannya. “Banyak kegiatan yang sudah dilakukan NIM untuk mengembangkan semangat kebangsaan para pemuda. Kami mengajak pemuda di Indonesia untuk mencintai bangsa dan negara melalui cara-cara yang menyenangkan,” cetusnya serius.</p>
<p>Sudah sepatutnya para pemuda sadar dan bergerak maju untuk membangkitkan kembali semangat nasionalisme. Terus menggaungkan produk Indonesia serta mencintai negara dengan mencari solusi bersama untuk persoalan-persoalan bangsa merupakan contoh-contoh nyata yang dapat kita lakukan bersama-sama.</p>
<p>“Cintai negara di atas kau mencintai dirimu sendiri. Dan cintai Indonesia di atas kepentingan pribadi serta jadilah bangga terhadap Indonesia,” ajak perempuan yang pernah tergabung dalam Bala Mahardika dan Senat Sastra Universitas Udayana ini penuh semangat.</p>
<p>Dian Purnama</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akademikaunud.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akademikaunud.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akademikaunud.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akademikaunud.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akademikaunud.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akademikaunud.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akademikaunud.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akademikaunud.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akademikaunud.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akademikaunud.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akademikaunud.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akademikaunud.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akademikaunud.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akademikaunud.wordpress.com/179/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akademikaunud.wordpress.com&amp;blog=4329659&amp;post=179&amp;subd=akademikaunud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akademikaunud.wordpress.com/2009/08/29/putu-sri-puji-astuti-cintai-negara-di-atas-diri-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e92f36fb65c458c5a981e067384ebeba?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">akademikaunud</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://akademikaunud.files.wordpress.com/2009/08/mbak-cicha-1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Mbak Cicha 1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mahasiswa Bukan Tukang Kuliah</title>
		<link>http://akademikaunud.wordpress.com/2009/08/29/mahasiswa-bukan-tukang-kuliah/</link>
		<comments>http://akademikaunud.wordpress.com/2009/08/29/mahasiswa-bukan-tukang-kuliah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Aug 2009 06:49:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sssssssssssssssss</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akademikaunud.wordpress.com/?p=168</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Resi Randhi M Banyak para mahasiswa berbondong-bondong ke kampus untuk mengikuti kuliah, bertemu dosen, diskusi kelompok, atau hanya sekedar ingin membaca-baca buku di perpustakaan ataupun berselancar di dunia maya dengan laptopnya. Sebuah rutinitas yang umum terjadi di kampus manapun di negeri ini. Seperti analogi pasang surut air laut, terkadang kampus nampak seperti lautan mahasiswa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akademikaunud.wordpress.com&amp;blog=4329659&amp;post=168&amp;subd=akademikaunud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center">
<p align="center">Oleh: Resi Randhi M</p>
<p align="center">
<p>Banyak para mahasiswa berbondong-bondong ke kampus untuk mengikuti kuliah, bertemu dosen, diskusi kelompok, atau hanya sekedar ingin membaca-baca buku di perpustakaan ataupun berselancar di dunia maya dengan laptopnya. Sebuah rutinitas yang umum terjadi di kampus manapun di negeri ini. Seperti analogi pasang surut air laut, terkadang kampus nampak seperti lautan mahasiswa yang sedang pasang pada saat menjelang atau saat UAS sedang berlangsung, namun sebaliknya ada pula fase dimana lautan mahasiswa di kampus sedang mengalami masa surut alias sepi dari penghuninya. Ironisnya fase surut itu tidak hanya terjadi pada masa libur semester saja, tetapi fase itu justru juga terjadi pada setiap pertengahan masa perkuliahan sedang berlangsung.<span id="more-168"></span></p>
<p>Menurut saya ada berbagai macam faktor yang menyebabkan fenomena diatas itu  terjadi, salah satunya adalah bergesernya  nilai atau makna dari istilah “mahasiswa” menjadi “tukang kuliah”. Dalam pendefinisiannya, “mahasiswa” adalah sebuah istilah yang terdiri dari dua suku kata yaitu “maha” yang berarti besar atau yang dihormati, dan “siswa” yang berarti pelajar atau seorang yang melakukan kegiatan belajar. Jadi, mahasiswa adalah seorang pelajar dalam tingkat yang paling besar/tinggi atau seorang intelektual yang selalu berpikir jernih berdasarkan ilmu pengetahuan, yang tentu saja tugasnya adalah berpikir dan belajar dalam arti yang luas serta terus memahami persoalan-persoalan yang sedang terjadi. Sedangkan “tukang kuliah” yang terdiri dari kata “tukang” yang berarti pandai atau ahli, dan “kuliah” yang berarti pelajaran yang diberikan oleh perguruan tinggi. Jadi “tukang kuliah” dapat diartikan sebagai seorang yang ahli atau mampu belajar menerima pelajaran yang diberikan oleh perguruan tinggi.</p>
<p>Sepintas memang tidak ada perbedaan yang mencolok dari kedua istilah tersebut, karena keduanya sama-sama menggunakan istilah belajar dalam pengertiannya,  tapi jika kita coba cermati kembali, nampak suatu perbedaan yang signifikan antara kedua istilah itu. Dikatakan bahwa fungsi berdasarkan arti dari istilah “mahasiswa” adalah terus berfikir dan memahami persoalan-persoalan yang ada, sedangkan fungsi dari istilah “tukang kuliah” adalah dituntut untuk terus mampu menerima pelajaran yang diberikan oleh perguruan tinggi. Jadi makna belajar dalam konteks mahasiswa memiliki arti yang lebih luas daripada makna belajar dalam konteks tukang kuliah. Karena seorang mahasiswa seharusnya tidak hanya mampu menerima pelajaran-pelajaran yang diberikan perguruan tinggi di bangku kuliah saja, namun dituntut untuk mampu memahami persoalan-persoalan yang ada dan sekaligus mencoba mencari solusinya.</p>
<p>Akibatnya terjadi perbedaan kebiasaan atau perilaku yang terjadi antara para penyandang gelar mahasiswa dengan tukang kuliah. Sebagai contoh, si A adalah seseorang yang rajin mengikuti kuliah sehingga tidak pernah absen, rajin membuat dan mengumpulkan tugas sehingga nilainya selalu bagus, selalu mengejar nilai prakteknya agar tetap tinggi. Semuanya itu ia lakukan semata-mata untuk mengumpulkan nilai tinggi untuk dirinya, karena ia menganggap nilai yang tinggi adalah jaminan kesuksesan dalam hidupnya, jadi yang selalu dilakukannya adalah kuliah pulang-kuliah pulang (kupu-kupu), seolah-olah tak ada lagi waktu baginya untuk mengikuti kegiatan-kegiatan lain di kampusnya selain mengikuti kuliah dan mengerjakan tugas. Adapun contoh lain, si B adalah seorang yang selain sibuk mengikuti kuliah di kampusnya, ia pun aktif dalam kegiatan organisasi di kampusnya maupun di luar, ia selalu berbagi pengetahuan dengan rekan-rekannya dalam berbagai diskusi, melakukan aksi penghijauan di kampusnya karena kesadaran akan pentingnya lingkungan yang sehat bagi dirinya dan juga bagi orang lain, apa saja ia lakukan untuk menyampaikan pesan tentang pentingnya kesehatan lingkungan hidup kepada orang lain, sehingga dalam kesehariannya ia selalu kuliah rapat-kuliah rapat, ia tidak hanya mementingkan dirinya saja, tetapi ia selalu mencoba memahami sekaligus mencari solusi persoalan-persoalan yang ada berdasarkan pengetahuan yang ia dapat di bangku kuliah sehingga dapat bermanfaat bagi orang lain.</p>
<p>Dari kedua contoh di atas, nampak perbedaan antara si A dan si B, di mana kesibukan si A hanya bertujuan untuk kepentingan dirinya saja, ia selalu mampu untuk mengikuti pelajaran-pelajaran yang diberikan di bangku kuliah sehingga akhirnya menjadi “tukang kuliah” yang ahli dalam meraih nilai-nilai tinggi di kampusnya. Sementara si B, ia memiliki kesibukkan tidak hanya untuk kepentingan dirinya, ia masih menyempatkan waktunya untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi orang lain. Segala upaya ia lakukan untuk menyampaikan pesan kebaikan dengan harapan dapat bermanfaat bagi orang lain, ia menggunakan pengetahuannya untuk menyelesaikan persoalan-persoalan di lingkungannya. Jadi yang membedakan keduanya adalah bagaimana pengetahuan yang dimiliki tidak hanya menjadi modal untuk lulus ujian semester saja, melainkan modal itu dapat juga diimplementasikan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada di lingkungan sekitarnya.</p>
<p>Kesimpulannya adalah mahasiswa yang selama ini hanya mengejar nilai tanpa menerapkan bidang keilmuannya di kehidupan yang sebenarnya, adalah sesungguhnya bukan mahasiswa, karena ia hanyalah seorang tukang yang hanya ahli mengejar nilai atau ahli mengejar absen di bangku kuliahnya. Ia adalah seorang “tukang kuliah” yang hanya bisa beronani pemikiran pada tataran teori saja. Dan mereka tidak pantas menyandang gelar mahasiswa, karena secara istilah saja mereka sudah tidak memenuhi kriteria sebagai “mahasiswa”.</p>
<p>Tulisan ini hanyalah sebuah opini dari pemikiran seorang manusia yang pasti memiliki kesalahan. Karena tujuan tulisan ini dibuat bukan untuk menilai mana yang benar dan yang salah, tetapi untuk sekedar menjelaskan sebuah fenomena yang sedang terjadi sehingga menimbulkan pertanyaan-pertanyaan kenapa sampai saat ini negeri ini belum beranjak dari keterpurukannya. Perlu diingat bahwa kaum intelektual yang beruntung mendapat kesempatan menikmati bangku kuliah di Indonesia adalah kaum minoritas, karena mayoritas penduduk Indonesia adalah mereka-mereka yang belum mampu menikmati kesempatan sebagai seorang intelektual yang disebabkan oleh faktor ekonomi kita yang masih terpuruk. Sehingga alangkah sedihnya jika kaum yang secara jumlah adalah minoritas ini tidak memikirkan nasib mereka-mereka yang tidak beruntung dan hanya memikirkan diri sendiri. Padahal seorang yang bijak pernah mengatakan bahwa “sebaik-baiknya manusia, adalah manusia yang bermanfaat bagi sesamanya”. Jadi bagi para intelektual yang saat ini membaca tulisan ini, sudah saatnya kalian menentukan pilihan dan merenungi lagi tentang apa tujuan kalian selama ini menuntut ilmu?</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akademikaunud.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akademikaunud.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akademikaunud.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akademikaunud.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akademikaunud.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akademikaunud.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akademikaunud.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akademikaunud.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akademikaunud.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akademikaunud.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akademikaunud.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akademikaunud.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akademikaunud.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akademikaunud.wordpress.com/168/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akademikaunud.wordpress.com&amp;blog=4329659&amp;post=168&amp;subd=akademikaunud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akademikaunud.wordpress.com/2009/08/29/mahasiswa-bukan-tukang-kuliah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e92f36fb65c458c5a981e067384ebeba?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">akademikaunud</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
